Kampus semakin sibuk mengelola dunia dirinya sendiri. Kampus semakin jauh dari pergulatan persoalan sosial masyarakatnya.
Terlalu riuh kampus hari ini dibicarakan, bukan tentang keberhasilan mengolah ilmu bagi kebaikan peradaban, melainkan lebih sebagai ruang keprihatinan. Kegelisahan akademik hadir dalam wujud nyata, meski kerap tabu diperbincangkan secara terbuka.
Kampus semakin hari, aktivitasnya tampak semakin rapi, kalender penuh, banyak program diselesaikan tepat waktu. Namun, di balik semua itu, banyak keganjilan yang di batin masyarakat, yakni kampus semakin sibuk mengelola dunia dirinya sendiri, dan sebaliknya semakin jauh dari pergulatan persoalan sosial masyarakat, yang semestinya menjadi orientasi utama horison keilmuannya. Betapa sumber daya kampus dalam mengemban amanah praksis tri dharma perguruan tinggi, cenderung dikuras untuk hal-hal yang-administratif. Pelaporan, pemutakhiran data, evaluasi kinerja berlapis, semuanya penting, bahkan seolah genting, mendesak setiap saat. Semua itu selalu menjadi prioritas utama yang mesti diberi kerangka dalamImplikasinya adalah ruang keheningan untuk kemungkinan bisa membaca dengan tenang, berpikir pelan, dan merespons pelbagai kronik persoalan sosial masyarakat dengan penuh kedalaman terasa semakin hilang. Mulai dari urusan yang tampak remeh—seperti pengelolaan sampah kota—hingga persoalan serius tentang tata kelola bangsa dan negara yang kian menjauh dari adab publik, kampus sering kali hadir sebagai penonton yang tertib, bukan sebagai suara nurani., menghabiskan energi untuk menata dan mengawasi dirinya sendiri, alih-alih, ke persoalan masyarakat yang semestinya lebih menjadi ruang kesadarannya. Kampus tidak apatis karena jahat dalam hal ini, melainkan lebih karena terlalu sibuk mengawasi dan menata dirinya sendiri. Di sinilah, akhirnya tanpa disadari, kecanggihan administratif perlahan menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Di balik lanskap tersebut ada dua logika kultural yang sedang bekerja keras amat hegemonik yakni budaya kecepatan dan kapitalisme mutakhir bertandem dengan nyaris sempurnanya. Dalam naungan payung logika ini, betapa nilai sesuatu secara niscaya senantiasa diukur dengan parametrik seberapa cepat, dan terutama akuntabel rapi secara administratif, sebuah orientasi yang diametral dengan etos keilmuan yang menuntut kedalaman, permenungan, dan tanggung jawab etis. Ilmu pengetahuan akhirnya diperlakukan tak lebih sebagai komoditas simbolik, yang ditakar dengan memakai instrumentasi utamanya, yakni peringkat, indikator metrik kinerja, dan potensi profit secara ekonomi semata. Proses habituasi seperti ini, dalam jangka panjang, betapa telah menciptakan sistem dan model pengawasan yang terkelola sangat halus, nyaris tanpa paksaan. Akademisi tak harus dikontrol secara keras dan langsung, karena sistem mengonstuksi kesadaran, buah dari sistem yang membentuk kebiasaan untuk mengawasi dirinya sendiri. Inilah yang diistilahkan Michel Foucault sebagai mesinDampaknya, bukan hanya kelelahan yang niscaya bagi para kademia, tetapi melampaui dari itu, adalah adanya semacam kematian rasa secara kolektif dalam dunia kampus. Pelbagai persoalan masyarakat, sama sekali tak menarik apalagi bermakna strategis untuk dijadikan perhatian dalam kinerja keilmuan; karena kompleksitas persoalan sosial memang perlu keheningan, kelambatan, kedalaman permenungan, yang notabene berlawanan dengan keyakinan terhadap prinsip tesis kecepatan, bahkan percepatan. Mengurus problem lingkungan, ketimpangan sosial, atau krisis etika publik, akhirnya dimaknai tidak sejalan dengan target kinerja. Maka, tanpa disadari, kampus menjadi rapi sekaligus jauh dari masyaraktnya. Kegelisahan perihal orientasi kompas moral kampus seperti itu sesungguhnya telah lama menjadi perhatian. Bill Reading misalnya melalaui mengingatkan bahwa universitas berisiko kehilangan marwah otentiknya, ketika ”keunggulan” direduksi menjadi capaian yang diukur semata-mata dengan jargon kecepatan dan keuntungan instan. Kampus tetap berjalan, tetapi kehilangan kefasihan berbahasa tentang elan kebajikan dalam ilmu pengetahuan. Ketika habituasi sistem dan pola kehirukpikukan kesibukan dalam balutan tuntutan kecepatan dan bahkan percepatan menjadi nilai moral, sementara keheningan dan permenungan dicurigai sebagai ketidakproduktifan, di situlah kepekaan sosial dan etis mudah tersingkir tersisihkan, bukan karena dilarang melainkan tersebab tiadanya ruang.” menemukan relevansi dan urgensinya. Gagasan ini sama sekali bukan menolak ajakan kinerja dalam prinsip akuntabilitas dan irama kecepatan, tetapi lebih menyerupai undangan etis, untuk memikirkan ulang tata kelola tempo, dengan harapan kampus kembali memiliki ruang kepekaan. Sebagaimanamisalnya, mencoba mencoba mengingatkan tentang kualitas hidup itu tak mesti selalu dalam keniscayaan yang berhimpitan presisi dengan kecepatan., hendak meneguhkan ulang bahwa kepekaan intelaktual dan moral hanya bisa tumbuh subur dalam ritme yang tak harus tergesa-gesa. Keheningan adalah sama sekali tidak identik dengan kemalasan. Keheningan adalah ruang batin tempat akademisi kembali pulang, menemukan, dan mendengarkan kembali gemuruh persoalan nyata kehidupan di luar dirinya., dengan demikian, bukan sekadar kritik terhadap percepatan dalam budaya kerja, melainkan yang lebih mendasar adalah koreksi tentang jarak etis moral antara kampus dan masyarakatnya yang semakin lebar menganga. Jika tidak, maka kampus akan tetap ada, tertib, rapi, tetapi kehilangan nurani bagi masyarakatnya. Kampus semakin hari, aktivitasnya tampak semakin rapi, kalender penuh, banyak program diselesaikan tepat waktu. Namun, di balik semua itu, banyak keganjilan yang di batin masyarakat, yakni kampus semakin sibuk mengelola dunia dirinya sendiri, dan sebaliknya semakin jauh dari pergulatan persoalan sosial masyarakat, yang semestinya menjadi orientasi utama horison keilmuannya. Betapa sumber daya kampus dalam mengemban amanah praksis tri dharma perguruan tinggi, cenderung dikuras untuk hal-hal yang-administratif. Pelaporan, pemutakhiran data, evaluasi kinerja berlapis, semuanya penting, bahkan seolah genting, mendesak setiap saat. Semua itu selalu menjadi prioritas utama yang mesti diberi kerangka dalamImplikasinya adalah ruang keheningan untuk kemungkinan bisa membaca dengan tenang, berpikir pelan, dan merespons pelbagai kronik persoalan sosial masyarakat dengan penuh kedalaman terasa semakin hilang. Mulai dari urusan yang tampak remeh—seperti pengelolaan sampah kota—hingga persoalan serius tentang tata kelola bangsa dan negara yang kian menjauh dari adab publik, kampus sering kali hadir sebagai penonton yang tertib, bukan sebagai suara nurani., menghabiskan energi untuk menata dan mengawasi dirinya sendiri, alih-alih, ke persoalan masyarakat yang semestinya lebih menjadi ruang kesadarannya. Kampus tidak apatis karena jahat dalam hal ini, melainkan lebih karena terlalu sibuk mengawasi dan menata dirinya sendiri. Di sinilah, akhirnya tanpa disadari, kecanggihan administratif perlahan menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Di balik lanskap tersebut ada dua logika kultural yang sedang bekerja keras amat hegemonik yakni budaya kecepatan dan kapitalisme mutakhir bertandem dengan nyaris sempurnanya. Dalam naungan payung logika ini, betapa nilai sesuatu secara niscaya senantiasa diukur dengan parametrik seberapa cepat, dan terutama akuntabel rapi secara administratif, sebuah orientasi yang diametral dengan etos keilmuan yang menuntut kedalaman, permenungan, dan tanggung jawab etis. Ilmu pengetahuan akhirnya diperlakukan tak lebih sebagai komoditas simbolik, yang ditakar dengan memakai instrumentasi utamanya, yakni peringkat, indikator metrik kinerja, dan potensi profit secara ekonomi semata. Proses habituasi seperti ini, dalam jangka panjang, betapa telah menciptakan sistem dan model pengawasan yang terkelola sangat halus, nyaris tanpa paksaan. Akademisi tak harus dikontrol secara keras dan langsung, karena sistem mengonstuksi kesadaran, buah dari sistem yang membentuk kebiasaan untuk mengawasi dirinya sendiri. Inilah yang diistilahkan Michel Foucault sebagai mesinDampaknya, bukan hanya kelelahan yang niscaya bagi para kademia, tetapi melampaui dari itu, adalah adanya semacam kematian rasa secara kolektif dalam dunia kampus. Pelbagai persoalan masyarakat, sama sekali tak menarik apalagi bermakna strategis untuk dijadikan perhatian dalam kinerja keilmuan; karena kompleksitas persoalan sosial memang perlu keheningan, kelambatan, kedalaman permenungan, yang notabene berlawanan dengan keyakinan terhadap prinsip tesis kecepatan, bahkan percepatan. Mengurus problem lingkungan, ketimpangan sosial, atau krisis etika publik, akhirnya dimaknai tidak sejalan dengan target kinerja. Maka, tanpa disadari, kampus menjadi rapi sekaligus jauh dari masyaraktnya. Kegelisahan perihal orientasi kompas moral kampus seperti itu sesungguhnya telah lama menjadi perhatian. Bill Reading misalnya melalaui mengingatkan bahwa universitas berisiko kehilangan marwah otentiknya, ketika ”keunggulan” direduksi menjadi capaian yang diukur semata-mata dengan jargon kecepatan dan keuntungan instan. Kampus tetap berjalan, tetapi kehilangan kefasihan berbahasa tentang elan kebajikan dalam ilmu pengetahuan. Ketika habituasi sistem dan pola kehirukpikukan kesibukan dalam balutan tuntutan kecepatan dan bahkan percepatan menjadi nilai moral, sementara keheningan dan permenungan dicurigai sebagai ketidakproduktifan, di situlah kepekaan sosial dan etis mudah tersingkir tersisihkan, bukan karena dilarang melainkan tersebab tiadanya ruang.” menemukan relevansi dan urgensinya. Gagasan ini sama sekali bukan menolak ajakan kinerja dalam prinsip akuntabilitas dan irama kecepatan, tetapi lebih menyerupai undangan etis, untuk memikirkan ulang tata kelola tempo, dengan harapan kampus kembali memiliki ruang kepekaan. Sebagaimanamisalnya, mencoba mencoba mengingatkan tentang kualitas hidup itu tak mesti selalu dalam keniscayaan yang berhimpitan presisi dengan kecepatan., hendak meneguhkan ulang bahwa kepekaan intelaktual dan moral hanya bisa tumbuh subur dalam ritme yang tak harus tergesa-gesa. Keheningan adalah sama sekali tidak identik dengan kemalasan. Keheningan adalah ruang batin tempat akademisi kembali pulang, menemukan, dan mendengarkan kembali gemuruh persoalan nyata kehidupan di luar dirinya., dengan demikian, bukan sekadar kritik terhadap percepatan dalam budaya kerja, melainkan yang lebih mendasar adalah koreksi tentang jarak etis moral antara kampus dan masyarakatnya yang semakin lebar menganga. Jika tidak, maka kampus akan tetap ada, tertib, rapi, tetapi kehilangan nurani bagi masyarakatnya.
Opini Kampus Perguruan Tinggi Sdgs SDG04-Pendidikan Berkualitas X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Pemerintah ingin kampus berkualitas tidak mahal buat mahasiswaPemerintahan Presiden Prabowo Subianto ingin perguruan tinggi di Indonesia dapat terus maju dan meningkatkan kualitasnya, tetapi beban biaya yang dibutuhkan ...
Read more »
Kemampuan Membaca Generasi Z di Kampus AS Merosot, Standar Akademik DiturunkanPerguruan tinggi di Amerika Serikat menghadapi tantangan baru dengan menurunnya kemampuan membaca mahasiswa Gen Z. Para pengajar terpaksa menurunkan standar akademik dan beradaptasi dengan metode pembelajaran baru karena kesulitan mahasiswa memahami teks. Faktor struktural seperti sistem pendidikan yang rapuh, dampak pandemi, dan pergeseran konsumsi informasi turut memengaruhi penurunan literasi ini.
Read more »
UIN Satu Tulungagung Jatim Kembangkan Bioswale, Perkuat Kampus Ramah Lingkungan dan Kesadaran EkologisSampah menjadi biang utama dalam fenomena pencemaran lingkungan. Permasalahan sampah tidak pernah usai. Membakar, menimbun dan bahkan membuangnya ke sungai merupakan akar terjadinya pencemaran lingkungan. Salah satunya sampah elektronik yang merupaka...
Read more »
Istana: Pemerintah bentuk tim kaji keterhubungan kampus-dunia kerjaMenteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, menyatakan pemerintah membentuk tim untuk mengkaji keterhubungan ...
Read more »
Pemerintah Bentuk Tim Kajian untuk Sinkronisasi Kampus dengan Dunia KerjaPemerintah membentuk tim untuk mengkaji keterhubungan antara dunia kampus dengan dunia kerja sehingga lulusan dari universitas dapat terserap oleh penyedia kerja.
Read more »
Kampus gratis Prabowo dan momentum emas reformasi kedokteranJanuari 2026 kembali mencatatkan tinta merah dalam sejarah pendidikan kedokteran Indonesia.Kasus perundungan yang menimpa seorang residen di RSUP Dr. Mohammad ...
Read more »




