Ia seorang penyair, penulis cerita anak, tetapi semasa hidupnya ia juga seorang ilmuwan yang mempelajari tentang tanah.
Zazen”, ia mengisahkan di momen terberat seorang petani selepas menanam padi mencemaskan hujan yang tidak kunjung datang.Pada satu sisi, ia dapat mengupayakan kalkulasinya terhadap alam, keterlambatan tumbuhnya padi karena kekurangan air, dan segala perkiraan.
Namun, Zazen tidak saja dimaknai sebagai duduk dan bermeditasi, tetapi bakti yang teguh tetap berusaha meski dalam keadaan tersulit sekali pun. Ketabahan dalam menjalani kesengsaraan acapkali menjadi tema dalam puisi Miyazawa. Salah satu puisi masyhur karya Miyazawa berjudul ”Tak Kalah oleh Hujan”. Ia menuturkan bagaimana dalam keadaan penuh kesukaran seseorang tetap berbuat kebaikan, ”…dalam segala hal, letakkan dirimu terakhir dan dahulukan orang lain, perhatikan, dengarkan dan memahami, dan tidak pernah melupakan…”. Di wilayah seperti Iwate, khususnya area pertanian di Hanamaki, tradisi pangan tidak diterapkan semata-mata sebagai praktik agraris, tetapi sebagai simpul pengetahuan yang memintal kosmologi, etika, dan pengalaman ekologis masyarakatnya. Ini sejalan dengan gagasan Miyazawa yang karyanya merupakan penggabungan antara folklor, animisme, Buddhisme, dan sains. Bagi Miyazawa, ladang bukanlah obyek sains saja, di ladang manusia ditempa kesabaran serta kesetiaannya, juga kepedulian dan cinta kasihnya.Serpihan salju berjatuhan seirama dengan desau angin yang menjelajahi lembah dengan tenang. Salju itu menyelimuti hutan dengan warna putih yang elusif. Kepercayaan orang-orang di wilayah ini saat badai salju, tirai pembatas antara dunia manusia dan roh akan tersibak. Dengan latar belakang salju yang melapisi lanskap, para penari bergerak dengan lincah, mengenakan topeng berbentuk kepala rusa dengan tanduk putih yang panjang terbuat dari bambu. Topeng rusa berwarna hitam dengan mata keemasan yang membelalak, tidaklah seperti mata seekor rusa biasa, yang lazimnya pekat dengan kelembutan. Mata para rusa ini menyala emas dengan garis merah yang tajam. Para penari bergerak dengan semangat, seraya menari juga menabuh drum. Drum itu digantung di tubuh penari dan turut mengayun bersama tubuh mereka sembari sebilah kayu mengetuk ritme.atau Tarian Rusa adalah tarian khas yang dipentaskan di Hanamaki, Prefektur Iwate, wilayah Tohoku, Jepang. Bunyi yang mengiringi tarian mereka datang dariatau drum besar yang mereka kalungkan di badan mereka. Mereka pun menyanyikan lagu tradisional yang sudah dilantunkan oleh nenek moyang mereka selama ratusan tahun lamanya. Tabuhan itu menandai gerak-gerik kaki rusa, saat mereka bermain, bersenang-senang di lembah, atau di pinggir sungai, maupun langkah kewaspadaan mereka jika ada bahaya. Rusa dalam kepercayaan orang-orang Jepang adalah makhluk penghubung dengan alam roh. Kemunculan mereka sering dianggap memiliki pesan-pesan yang berkaitan dengan dunia supernatural.Tarian Rusa erat keberadaannya dengan tradisi pertanian di wilayah Tohoku. Tarian ini memiliki beberapa fungsi yang terkait dengan kepercayaan masyarakat sekitar, tarian ini diyakini mendatangkan harmoni dan juga menolak bala, yang sejatinya tidak terlepas dari tradisi agraris yang kental di wilayah tersebut. Tarian Rusa menjadi inti dari masyarakat Hanamaki. Tarian itu mengikat kesadaran masyarakat setempat tentang budaya dan spiritualitas yang tidak terlepas dari eratnya relasi manusia dengan lingkungan hidupnya. Tarian Rusa menginspirasikan pula salah seorang sastrawan besar Jepang bernama Kenji Miyazawa . Penulis ini menuangkan ke dalam salah satu ceritanya, bagaimana asal-usul leluhurnya menjumpai sekelompok rusa di hutan, ajaibnya, ia dapat mendengarkan rusa-rusa itu berbicara, bernyanyi, dan bermain dengan girang di pinggir sungai. Miyazawa menggambarkan alam yang meliputi tarian rusa itu, dengan puitis ia menggambarkan indahnya pohon alder yang pucuknya disinari oleh matahari.Bentang alam di Iwate merupakan sumber ilham yang tiada pernah berakhir. Pada musim dingin di sebelah Barat, Pegunungan Ōu tampak misterius dengan lekuk lembahnya yang dibalut oleh salju. Begitu pula di sebelah timur, tampak Gunung Hayachine yang dikeramatkan oleh warga. Pada musim semi, kota Hanamaki adalah festival warna-warni dengan bukit-bukit yang ditumbuhi bunga iris dan rumput liar yang tinggi. Dari pemandangan inilah, Miyazawa menciptakan dunia utopia yang ia sebut sebagaiKehidupan Kenji Miyazawa amat menarik jika dipelajari. Ia seorang penyair, penulis cerita anak, tetapi semasa hidupnya ia juga seorang ilmuwan yang mempelajari tentang tanah. Dia seorang pengikut Buddhis yang taat sekaligus seseorang yang memperjuangkan keadilan sosial bagi para petani di Iwate. Ia pernah mengajar sebagai guru pertanian, dan tulisan-tulisannya menyampaikan pemikiran yang brilian, filosofi ilmu pengetahuan yang digabungkan dengan kepekaan sastrawi. Sketsa dan coretan di buku tulisnya menggambarkan wawasannya yang luas tentang benih, cuaca, serta ekosistem secara ilmiah, tetapi terselip penghayatan religiusnya terhadap keagungan alam. Ia menganggap benih dan ladang adalah guru yang sesungguhnya. Ia selalu mengajarkan murid-muridnya untuk mendengarkan secara saksama denyut tanah, dengan rendah hati belajar dari alam.Idiosinkrasi inilah yang membuat membaca Miyazawa di era yang penuh pengotak-ngotakan, hingga pemilahan keras, menjadi penelusuran yang menyegarkan. Melalui Miyazawa, para pembacanya dapat mengerti penghayatan terhadap Buddhisme Nichiren yang unik. Dalam puisinya yang berjudul ”Musim Kering dan Namun, Zazen tidak saja dimaknai sebagai duduk dan bermeditasi, tetapi bakti yang teguh tetap berusaha meski dalam keadaan tersulit sekali pun. Ketabahan dalam menjalani kesengsaraan acapkali menjadi tema dalam puisi Miyazawa. Salah satu puisi masyhur karya Miyazawa berjudul ”Tak Kalah oleh Hujan”. Ia menuturkan bagaimana dalam keadaan penuh kesukaran seseorang tetap berbuat kebaikan, ”…dalam segala hal, letakkan dirimu terakhir dan dahulukan orang lain, perhatikan, dengarkan dan memahami, dan tidak pernah melupakan…”.Di wilayah seperti Iwate, khususnya area pertanian di Hanamaki, tradisi pangan tidak diterapkan semata-mata sebagai praktik agraris, tetapi sebagai simpul pengetahuan yang memintal kosmologi, etika, dan pengalaman ekologis masyarakatnya. Ini sejalan dengan gagasan Miyazawa yang karyanya merupakan penggabungan antara folklor, animisme, Buddhisme, dan sains. Bagi Miyazawa, ladang bukanlah obyek sains saja, di ladang manusia ditempa kesabaran serta kesetiaannya, juga kepedulian dan cinta kasihnya.
Analisis Budaya Tarian Rusa X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Gitaris Queen Bantu NASA Teliti Bennu, Asteroid Raksasa Seukuran Gunung Paling BerbahayaBrian May bukanlah hanya seorang gitaris band legend dunia. Tetapi ia juga adalah ilmuwan.
Read more »
Taufan Rahmadi: Pria Asli Lombok yang Berkarier di Bidang PariwisataTaufan Rahmadi, seorang pria asli Lombok, telah berkarier selama 20 tahun di bidang pariwisata. Ia juga seorang penulis buku yang telah meraih penghargaan.
Read more »
10 Ciri Pasanganmu Seorang Pria Sejati yang Layak Disayang dan DipertahankanSeorang pria sejati sejati bukan hanya tentang penampilan atau sikap yang sopan, tetapi juga tentang bagaimana ia memperlakukan pasangannya dengan hormat dan kasih sayang.
Read more »
Sosok Seru Veronica Almeera, TikTokers Heboh yang Suka Berbagi GiftVeronica Almeera tak hanya sekadar seorang TikTokers, tetapi juga seorang pengusaha yang aktif berbagi kebahagiaan melalui gift yang ia berikan kepada para live streamer.
Read more »
Pendiri House of Raminten Yogyakarta Hamzah Sulaiman Meninggal Dunia di Usia 75 TahunSelain pemilik House of Raminten, Hamzah Sulaiman juga dikenal sebagai seorang seniman serba bisa semasa hidupnya.
Read more »
Nathalie Holscher Debut di Film Horor, Belajar Nyinden dan Tatapan Setajam PedangNathalie Holscher menjelaskan, karakter yang ia mainkan merupakan seorang putri kerajaan dengan latar cerita mistis.
Read more »
