Serangan digital bertubi-tubi menghantam aktivis yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Pelaku serangan membajak akun WhatsApp dan media sosial mereka serta mencuri data pribadi yang kemudian disebarluaskan. Ini penelusuran Tempo.
TIGA pesan dari tiga nomor masuk ke akun WhatsApp Chairul Rahman Arif pada 10 Juni lalu, sekitar pukul 7 malam. Pemimpin Umum Teknokra, pers mahasiswa Universitas Lampung, itu terkejut membaca isi pesan tersebut. Pengirim pesan mempertanyakan maksud Chairul menggelar diskusi bertema “Diskriminasi Rasial terhadap Papua”.
Setelah mendapat ancaman, Chairul langsung meminta bantuan Aliansi Jurnalis Independen Bandar Lampung. Ketua AJI Lampung Hendry Sihaloho kemudian menceritakan teror yang menimpa Chairul melalui Facebook pada 11 Juni lalu, pukul 03.00. Setelah unggahan itu, giliran Hendry mendapat teror. Telepon miliknya tiba-tiba kehilangan sinyal dan tak bisa menerima panggilan masuk. Nomor itu terpasang pada gawai yang tak terkoneksi dengan Internet.
Guru besar hukum tata negara Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Ni’matul Huda, yang menjadi pembicara tunggal dalam diskusi itu, juga diteror. Ia mendapat ancaman pembunuhan dan rumahnya didatangi sejumlah orang dengan gerak-gerik mencurigakan. Diskusi itu akhirnya batal dengan alasan keamanan.
Telepon berkode +1 juga diterima Tantowi Anwari, pembicara dalam diskusi soal Papua di Universitas Lampung. Ditelusuri lebih jauh dengan aplikasi pencari kontak, tak ada satu pun jejak identitas yang tercatat. Begitu pula dengan empat nomor lokal—dua nomor di antaranya memiliki sembilan angka sama dan hanya berbeda tiga nomor di belakang—yang mengirim pesan ancaman ke nomor WhatsApp Tantowi.
Jejak digital juga ditinggalkan peretas saat mengambil alih akun Instagram pribadi Aditya Halimawan dan Constitutional Law Society UGM. Menurut Aditya, dua alamat surat elektronik yang dipakai untuk mendaftarkan akun tersebut telah diganti dengan alamat yang identik, yakni [email protected]. Pencarian dengan sejumlah kata kunci yang merujuk ke identitas di surel itu tak memberikan petunjuk apa pun.
Southeast Asia Freedom of Expression Network atau SAFEnet, organisasi pemantau hak digital publik di jagat maya, telah menerima laporan dari sejumlah korban peretasan. Hasilnya, banyak korban peretasan tak menerima pemberitahuan atau OTP melalui SMS. Penelusuran terhadap nomor-nomor korban yang akun WhatsAppnya diretas menunjukkan semua nomor mereka adalah nomor Telkomsel.
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Komandan PMPP: Pelaku Penyerangan TNI di Kongo Diinvestigasi |Republika OnlinePrajurit TNI sudah dimintai keterangan oleh tim investigasi dari PBB.
Read more »
Bendera PDIP Dibakar, Pintu Maaf Buat Pelaku Masih Terbuka LebarBasarah menyebutkan bahwa pintu maaf masih terbuka bagi oknum-oknum yang membakar bendera PDIP. BenderaPDIPDibakar
Read more »
Viral Pedagang Bakso Ludahi Isi Mangkuk, Polisi Ungkap Motif Pelaku: Untuk Mendapatkan Penglaris - Tribun WowPenjual bakso cuanki mengaku bahwa dagangan baksonya akan laris jika ia meludahi isi mangkuk bakso yang akan disajikan kepada pelanggan.
Read more »
Lewat Kemitraan ANTAM, Pelaku UMKM Bisa Bangkit Hadapi Pandemi Covid-19Akibat pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air sejak pertengahan Maret lalu perekonomian di berbagai sektor mengalami penurunan signifikan.
Read more »
Akhir Perjalanan Abu Rara, Pelaku Penusukan Wiranto di BantenAbu Rara adalah lulusan Fakultas Hukum yang menjadi pelaku utama penusukan Wiranto saat kunjungan kerja ke Pandeglang pada 10 Oktober 2019 lalu.
Read more »
4 Fakta Kasus Penusukan Serda Saputra, Pelaku Oknum Marinir hingga Temuan Proyektil PeluruIa tertusuk oleh oknum TNI AL dan warga sipil saat ingin mengurai keributan yang terjadi di lingkungan hotel. / Megapolitan
Read more »